Terkadang aku tertawa memikirnya
atau seharusnya aku sedih?
Disaat ada seseorang yang aku inginkan untuk berada disampingku, menemani aktivitas harianku, orang itu malah sama sekali tidak menghiraukan, dan hanya memikirkan kesibukannya sendiri, tanpa sepatah katapun terucap dari mulutnya untuk sekedar bertanya, "How's ur day?". Apakah kamu terlalu sibuk untuk mengetik/menelvon selama 5 detik?
TETAPI ..
Disaat aku memiliki kesibukan yang benar-benar menyita waktu ku, DAN aku selalu menyempatkan mengirimkan sekedar kabar padanya, ia tetap egois dan mengeluh padaku, seperti biasa, berujung menjadi suatu masalah.
NAMUN ..
Disaat aku sendiri, menunggu kabar atau simpul sapaan darinya, dengan pikiran terus menghawatirkannya, banyak orang lain menghampiriku dan sedikit memaksa untuk bisa menemani kesendirianku, memaksa untuk menjagaku, dan memaksa untuk melindungiku, rela membuang waktunya, yang sebenarnya ia memiliki berjibun kesibukan lain, namun ia selalu sempat untuk menemaniku. Dan sampai saat itu, aku masih mempertahankannya, seseorang yang sama sekali tak memberi kabar, yang mungkin tidak mengingatku sama sekali.
waktu pun terus berlalu, berlalu sangat cepat, dan dia tetap setia menemaniku, walaupun hanya seorang diri dan hingga menjelang adzan shubuh berkumandang. Entah sudah berapa lama aku tetap memaksa menyimpan hati ini untuk nya, orang yang sampai detik ini pun belum mengabari ku sama sekali, tapi dia, orang yang tidak pernah ku hiraukan apapun kebaikan, perhatian, dan tulusnya kepadaku, tidak pernah ku coba untuk membuka sedikit hatiku untuknya, walau hanya setitik.
Detik itu pun otakku mulai sedikit berfikir, sedikit mengingat semua kebaikan dia padaku, bukan dirinya, yang hanya memberikan sebuah perhatian, namun ku tak pernah tau apakah itu nyata atau hanya bualannya saja.
BESOKNYA ..
kembali ku bersama dia, DIA, bukan DIRINYA. Orang itu masih belum memberikan kabar yang pasti, padahal mungkin saja dia tau aku memang benar-benar menunggu apapun beritanya, tapi tetap saja handphone ku tidak menunjukan ada notifikasi darinya. Saat ku menoleh ke samping, ya, aku sedang bersama DIA, dia selalu ada menemaniku, dengan acuh tak acuh dia tetap mengemudikan kendaraan, dan aku hanya bisa menatap nya dari pinggir, menatap semua ketulusannya, dan mungkin menuju hatinya.
MALAMNYA, aku pulang dengan senyum simpul diwajahku, dia berhasil membuatku tenang dan tidak merasa sendiri. Tanpa sadar aku tertidur, dan LELAP..
PAGINYA ..
Aku cek handphone ku, ternyata ada notifikasi dari diriNYA! nyaris tengah malam dia mengabariku dengan santainya, bukan menanyakan kabarku, hariku, atau sedikit memberi penjelasan, hanya memberi kabar yang sangat tidak menghargai perasaanku. sungguh, di detik itu juga, sangat ingin kubuang jauh perasaanku padanya, walau sangat berat, kuharap DIA bisa cepat mengisi hidupku untuk melupakannya.
dan sekarang, tepat saat ku menulis diary ku ini, handphone ku berdering, menunjukan dia menelvonku dan memintaku untuk keluar rumah, aku tau dia sedang dalam kondisi tidak baik, tetapi dia sempat membelikan mampir dan membawakan cake kesukaanku, tanpa kupinta pastinya. Dia mengerti aku. DIA bukan DIRINYA.
SIGN - ERFA >> wanna discuss somethin wimme? email: r.erfaf@gmail.com || follow @erfaOlyn || FB: red_carpet9irl@yahoo.com
Wednesday, June 8, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments